Lava Tour Merapi

14.24.00 Febry Meuthia 0 Comments

Cerita ini adalah lanjutan dari cerita kami bermain air di Air terjun Sri Gethuk Kabupaten Gunung Kidul Jogjakarta, usia bermain air dan menyantap soto di pinggir jalan raya Wonosari, kami bergegas menuju arah Kaliurang. Untuk merasakan petualangan bekas-bekas erupsi gunung Merapi.


Wista ini sejujurnya membuat saya dilema, karena saya memang tidak begitu suka dengan musibah yang dijadikan ajang bersenang-senang, ini tidak berbeda dengan wisata lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Namun karena penasaran dan dorongan suami dan anak lanang, saya akhirnya setuju. 

Diperjalan saya browsing operator Tour Merapi dan menelpon. Mereka menyanggupi mengantar jika kami tiba paling lambat jam 15.00 karena itu batas waktu bagi operator setempat menerima dan mengantar touring ke Gunung Merapi.

Waktu hampir menunjukan pukul 15.00 saat kami tiba di Kaliurang,  kami bertemu pemandu dan mobil Jeep yang sudah menunggu di sebuah masjid, mobil kamipun numpang parkir di halaman masjid tersebut dan kami mengurus administrasi di tempat.

Tour dilakukan dengan menggunakan mobil-mobil jeep tua seperti fj cruiser atau yang kita kenal dengan sebutan toyota hardtop dan willys


Tarif mengikuti touring ini tidak berdasarkan penumpang namun berdasarkan unit  mobil maksimal penumpang 4 orang dengan tarif berdasarkan paket rute perjalanan :

  1. Rute Pendek : Basecamp — Kali Opak — Batu Alien — Kali Gendol — Dusun Kaliadem — Hamparan Material erupsi Merapi Kaliadem — Gumuk Petung — Makam Massal Korban MerapiDengan tarif  Rp. 300.000,  dengan waktu Tempuh 1,5 s.d 2 Jam Perjalanan.
  1. Rute Sedang Basecamp — Kali Opak — Dusun Petung — Gardu Pandang Kopeng — Hamparan Material Merapi Kali Gendol — Air Panas Cangkringan — Batu Gajah Kepuharjo Makam Massal Korban Merapi. Dengan tarif   Rp. 400.000, yang ditempuh dalam waktu 2 s.d 3 jam Perjalanan.
  1. Rute Panjang Basecamp — Kali Opak — Dusun Petung — Gardu pandang Kopeng — Batu Gajah Kepuharjo — Makam Alm. Mbah Maridjan — Air Panas Cangkringan — Hunian Sementara Korban Merapi — Makam Massal Korban Merapi. Dengan tarif   Rp. 500.000, yang ditempuh dalam waktu 3 s.d 4 jam Perjalanan.

Karena kami tiba sudah hampir sore maka yang tersedia hanya paket rute pendek. Dengan uang tersebut kita diberikan Helm, Masker (karena jalan yang berdebu) dan masing-masing 1 botol air mineral.

Willys tunggangan kami mesinnya masih tokcer untuk jalan berpasir, berbatuan dan menanjak.  



Perjalanan kami mulai melalui pintu sebuah desa. menuju spot pertama yaitu makam masal dimana makam disini adalah makam penduduk asli Desa Gunung Merapi yang meninggal karena Erupsi Merapi tahun 2010, suasana disitu agak sedikit mencekam menurut saya ya maklumlah yang kita lihat hanya deretan makam saja dan saya meminta kepada guide kami untuk tidak berlama-lama disitu, sambil mendoakan para korban tersebut dalam hati kami bergegas melanjutkan perjalan dan melewati sebuah Dusun yang bernama Petung, disitu kita bisa melihat puing-puing rumah dan bangunan yang hancur menggambarkan betapa dasyatnya erupsi Gunung Merapi yang meluluhlantakan kampung tersebut.

Perjalanan kami berhenti di musium Sisa Hartaku yaitu sebuah rumah yang oleh pemiliknya dijadikan musium dari sisa-sisa benda atau hartanya yang hancur terkena erupsi merapi. 


Dari kendaraan berupa motor, buku, pakaian, radio, TV, foto keluarga, uang bahkan tulang-tulang ternak miliknya yang mati, dan yang menarik adalah Jam dinding yang jarumnya berhenti tepat pada saat kejadian erupsi Gunung Merapi. 


Disitu kita bisa membayangkan dan merenungi bagaimana sebuah keluarga yang hidup normal dan bahagia tiba-tiba 180 derajat berubah karena harus kehilangan apa yang mereka upayakan bertahun-tahun lamanya. 




Selanjutnya kami menuju sungai gendol, sungai yang dilalui lahar panas dan juga desa Kaliadem, sebuah desa yang telah tertutup material vulkanik dan batu-batu besar serta pasir Gunung Merapi dan tempat ini merupakan tempat tertingi dari jalur perjalanan kami. 

Hanya sebentar kami melihat-lihat suasana disana kamipun menuju bungker yang diperuntukan warga menyelamatkan diri dari erupsi yang kecil, kami pun masuk ke dalam bungker tersebut melalui tangga turun dan pintu baja beton yang tebal.


Bungker tersebut hanya sebuah ruangan besar bertembok tebal dengan fasilitas 1 kamar mandi, dan Bungker ini menjadi pembicaraan orang karena ditempat inilah 1 orang relawan dan 1 wartawan terjebak dan meninggal di bungker ini. 

Dingin dan pengap serta bau kemenyan memenuhi ruangan ini, karena ada keyakinan Bungker ini dianggap tempat keramat oleh penduduk sekitar. 

Di area bungker banyak warung penjaja makanan dan minuman ringan serta merchandise berupa kaos, foto, buku serta vcd tentang erupsi Gunung Merapi.

Batu Alien merupakan pemberhentian selanjutanya, Batu alien merupakan batu besar yang berbentuk kepala manusia usia berfoto dibatu tersebut kami pun beranjak kembali ke base camp di Kaliurang bersamaan matahari yang sudah mulai tenggelam.


Pada saat perjalanan pulang banyak kami temui beberapa petani masih melakukan aktifitas perkebunan disana dan membuat gubuk-gubuk tidak permanen untuk sekedar beristirahat atau menginap. Tapi teorinya benar sih tanah bekas erupsi itu sangat subur dan bagus untuk bercocok tanam, mungkin aitu alasan mereka bertahan mencari nafkah disana.


Berbagai desa kami lewati dan hari sudah hampir magrib dan gelap, dengan melalui aliran sungai kami menembus kali dan jalan-jalan yang terjal berbatuan. Hingga akhirnya kami sampai pada jalan utama beraspal menuju Masjid di Kaliurang tempat kami parkir. 

Usai Shalat maghrib di masjid tersebut kami menuju kawasan wisata kaliurang yang banyak menjual Jadah Tempe, yaitu berupa Uli bakar yang berisi tempe serta teh manis hangat. Jadah tempe sebagai penutup untuk kami turun ke kota Jogja mencari makan malam sebelum kembali ke hotel.
  

0 comments: