Backpacking

13.03.00 Febry Meuthia 5 Comments

Diingetin sama Timehop, ternyata bulan Januari 2014, kami bertiga pernah backpacking ke Guci, Tegal. 

Berbeda dengan kebanyakan perjalanan kami sebelumnya yang menggunakan kendaraan pribadi, kali ini kami menggunakan transportasi umum, mulai dari kereta comuterline, kereta api, angkot sampai angkudes.

Saat itu banjir besar sedang melanda Jabotabek, kami memulai perjalanan dari Bekasi naik Comuterline ke stasiun Gondangdia, lanjut naik bajaj menuju stasiun besar Gambir


Dari stasiun Gambir kami naik kereta Cirebon Express ke stasiun Tegal. Kondisi Jakarta yang banjir, sedikit mempengaruhi perjalanan kereta api, tapi keterlambatan satu jam dari jadwal seharusnya kami anggap tidak terlalu dramatis alias masih okelah.


Dari dalam kereta kami perhatikan sepanjang jalan, banjir di mana-mana. Tapi perjalanan kereta kami cukup lancar, tidak ada kejadian harus berhenti lama karena rel terendam air dan hal-hal seperti itu, padahal kami lihat hampir semua jalan raya Pantura tergenang, bahkan  di berita disebutkan macet belasan jam di Pantura akibat banjir ini.

Sesampai di stasiun Tegal, kami disambut hujan deras, meski begitu kami tetap bergegas melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan kota menuju Slawi


Sesampai di pertigaan pos Slawi (setelah alun-alun) kami turun dari angkot, ganti moda dengan bus 3/4 atau yang sering disebut bus tuyul oleh warga setempat menuju Yomani.

Sesampai di Yomani, dimana kami tinggal melanjutkan perjalanan sekitar 24km lagi ke Kawasan Wisata Air Panas Guci, ternyata sudah kesorean. Sehingga sudah tidak ada lagi angkutan kota atau angkot. Yang tersisa tinggal angkutan pedesaan atau angkudes bak terbuka, yang mau tidak mau kami naiki juga.


Sungguh ini pengalaman pertama kami pergi tamasya naik mobil bak terbuka, cukup menyenangkan ternyata. Mobil angkudes ini meliuk-liuk menanjaki jalan pegunungan yang berbelok belok sepanjang 24km sementara angin dingin berhembus menerpa wajah dan rambut kami



Kami turun di Tuwel, kurang lebih 7km sebelum gerbang kawasan wisata Guci. Kernet dan supirnya terlihat kecewa karena artisnya turun sebelum sampai di tujuan Hehehe.

Alasan kami turun bukan karena tidak menikmati perjalanan melainkan karena sejak awal berangkat sudah diniatkan untuk makan sate kambing yang empuk enak di Tuwel, sate balibul.


 Ini adalah sate khas Tegal, yakni kambing muda yang belum berumur lima bulan. Empuk, lezat dan segar.


Bahkan kami menolak godaan makan di kereta demi kuliner dahsyat Tegal ini.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek ke kawasan wisata Guci. Menembus hujan deras, dengan pertimbangan, sesampai di penginapan kami bisa langsung menghangatkan diri berendam di kolam air panas alami.


Esok paginya, cuaca masih berkabut dan hujan, kami sarapan sambil berendam air panas lagi. Saat hujan begini suhu udara di Guci malah kalah dingin dibanding saaat musim kemarau Tapi ya tetap saja masih dingin dibanding planet Bekasi yang hujannya selalu ditahan pawang


Siangnya kami kembali ke Bekasi. Karena mengejar jadwal kereta Fajar Utama kami memutuskan untuk menyewa kendaraan di Guci untuk mengantar kami ke stasiun Tegal. Dan mobilnya : bak terbuka lagi. Hihihihi.


Kami naik Fajar Utama sampai stasiun Jatinegara dan kembali ke Bekasi dengan Comuter Line


5 komentar:

  1. Wah terimakasih infonya, apakah boleh kapan2 nanya2 soal trip ini soalnya juga mau kesana tapi ngebolang sendirian

    BalasHapus
  2. Terima kasih cerita dan tulisannya, sangat membantu sekali karena kami berencana ke Guci dengan kendaraan/angkutan umum. Mudah-mudahan cuacanya bersahabat pas di sana :D

    BalasHapus