Piknik ke Mojopait, eh Mojokerto

10.47.00 Unknown 1 Comments

Saat mudik ke rumah di Surabaya alternatif pikniknya adalah : menikmati suasana kota Surabaya itu sendiri, mencari udara yang agak sejuk ke Malang dan Batu, Atau menyebrangi jembatan Suramadu berburu kuliner khas Madura.

Sebenarnya ada beberapa tujuan wisata yang bertetangga dengan Surabaya yang dapat disinggahi dengan perjalanan PP tanpa harus menginap. Salah satunya adalah Mojokerto, pusat kerajaan Majapahit dahulu.

Dari Surabaya kami niatkan berangkat pagi hari untuk mengejar sarapan disana, menempuh jarak 50 km atau sekitar kurang lebih 1,5 jam perjalanan, tibalah kami di tujuan pertama di Desa Trowulan Mojokerto untuk menyantap Sambel Wader makanan khas desa tersebut. 

Sambel Wader banyak tersedia warung-warung di depan Kolam Segaran yaitu sebuah waduk besar wadah penyimpanan air di masa Majapahit. 

Menurut cerita, setiap ada perayaan kerajaan mereka berpesta disana dan piring, sendok dan garpu yang terbuat dari emas dan perak bekas makan mereka buang ke kolam tersebut untuk menunjukkan kemakmuran dan kayanya kerajaan mereka. Ngeri. Hihihi. 

Sekarang Kolam Segaran saat ini hanya digunakan warga untuk berwisata dan memancing saja.

Balik lagi ke sambel wader makanan ini adalah ikan goreng kecil-kecil berasal dari kali, dengan sambal tomat lengkap dengan sayur lalap ditaruh dalam cobek dan disajikan dengan nasi hangat.  


Usai menyantap wader dan menu lainnya seperti sambal udang dan aneka botok, kami pun menuju musieum Mojopahit Trowulan yang letaknya hanya 100 meter dari kolam segaran, 

Musium ini menyimpan benda-benda cagar budaya peninggalan zaman Majapahit dari semua aspek seperti pertanian, irigasi, arsitektur, perdagangan, industri, agama dan kesenian pada zaman tersebut. Selain itu ada beberapa koleksi tanah liat, keramik, logam, batu serta berbagai komponen relief, arca, candi dan fosil yang berasal dari beberapa situs di Trowulan. 

Disini Raafi dan Allysa (adik sepupunya) melihat langsung sejarah mojopahit yang dipelajarinya disekolah saat ini, sedangkan saya seperti napak tilas ilmu pengetahuan saat sekolah dulu


Setelah puas berkeliling dan wefie kami melanjutkan menuju objek wisata padusan di Pacet.

Perjalanan dari Musium menuju objek wisata pacet ada dua tempat situs yang dapat kita mampiri pada sat perjalanannya yakni Gapura Bajang Ratu, sebuah gapura yang dibangun pada abad 14. Dulu digunakan sebagai pintu belakang kerajaan Majapahit. 

Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon Kecamatan Trowulan Mojokerto. Untuk memasukinya kita harus membayar tiket sebesar Rp 3000/orang dan mengisi buku tamu. 



Berikutnya adalah Candi Tikus sebuah kolam petirtaan atau pemandian para putri raja pada era Majapahit. Candi ini terletak di Desa Temon Kecamatan Trowulan Mojokerto.menurut keterangan disitu Candi Tikus ditemukan pada abad 14 masehi dan diberi nama Candi Tikus karena saat ditemukan dulu banyak sekali tikus maklum saat itu berada di bawah tanah. 

Setelah satu jam perjalanan dan berselfie di dua situs tadi akhirnya sampailah kami di objek wista padusan Pacet. Objek wista ini menyuguhkan wista alam pegunungan karena letaknya di lereng Gunung welirang, adapun fasilitas disini adalah kolam air panas dan dingin, outbond, air terjun Grenjengan dan Cangu, rafting, camping ground dan penangkaran rusa. 

Karena keluaraga kami penikmat wisata air, maka kesenangan pertama kamipun menuju air terjun Coban Cangu 

Untuk menuju coban Canggu  sangat mudah aksesnya  karena sudah dapat dilalui oleh mobil dan jalannnya cukup bagus. Dan antara parkir menuju ke air terjun kita melewati beberapa anak tangga, jalan setapak dan menyebrangi beberapa aliran air, sekitar setengah kilo jarak tempuh atau 30 menit waktu perjalanan. 


Dari Coban Canggu kami memilih untuk rafting, bergegas menuju operator rafting disana yakni TOS RAFTING PACET, ada 3 paket disediakan disana dan karena kami membawa anak-anak maka paket yang dianjurkan adalah WELIRANG TRIP, trip grade 2-3 yang di sediakan bagi tamu yang menginginkan untuk trial atau hanya sekedar ingin merasakan jeram kurang lebih 30 jeram,  dengan durasi singkat. 

Jeram yang ada masih membuat jantung deg-degan karena anda akan diajak manuver dengan cepat untuk masuk dan keluar dari jeram yang ada di sungai kromong dengan lama perjalanan 1 jam dengan jarak 5 km.


Perjalanan rafting kami semakin seru dan sejuk karena pada saat itu turun hujan, Oh ya rafting disini kita tidak disediakn dayung bagi penumpangnya karena track jeram sungai kromong memaksa kita harus tetap berpegang pada tali dan harus kompak untuk menghindari batu besar dengan cara menggerak-gerakan perahu karet kami  tidak terjebak di batu-batu besar.



Setelah letih perjalanan kamipun sampai di sebuah sungai besar di bawah jembatan sebagai penanda finish perjalanan rafting, Nah disana sudah disediakan teh hangat , wedang jahe serta singkong rebus yang dapat kita nikmati sambil berendam di air sungai yang alirannya tidak begitu deras. Dengan masih diringi hujan kamipun kembali ke wisata padusan dengan menggunkan mobil pick up.



Letih dingin terasa sekali apalagi hujan masih mengguyur lereng gunung welirang. Nah ini saat yang tepat untuk berendam di air panas di salah satu kolam yang tersedia di objek wista Padusan, Suhu air disini memang sangat panas jadi dianjurkan  setiap 15 menit untuk mengguyurnya di pancuran air dingin.



Satu jam kami berendam dan saatnya kembali menuju Surabaya mumpung hari masih sore dan belum gelap tapi tentunya sebagai penutup kami harus makan durian asli Mojokerto daerah Wonosalam tepatnya.

Di Wonosalam tiap tahunnya menyelenggarakan festival duren, kita bisa berpesta duren murah dan bahkan gratis disana. 


Piknik di Mojopait, eh di Mojokertopun akhirnya kami tutup dengan manis bersamaan dengan menikmati dua buah durian yang tebal dan manis pula.   













1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata di indonesia
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    seputar indonesia

    BalasHapus