Kenalan dulu yuk

16.59.00 Unknown 1 Comments


Inbox, salah satu program musik yang saya rancang bersama teman-teman semasa masih menjadi pegawai tv, oleh sebagian orang dianggap tempat sampah yang membusukkan musik Indonesia. 

Tapi Inbox dan Hiphiphura telah membawa saya menjadi finalis Indonesia Young Creative Enterpreneur sebuah kompetisi kreatif yang diselenggarakan British Council. Saya menjadi finalis IYCEY tahun 2007 dan 2008


Saya percaya tidak ada sesuatu yang bisa disetujui oleh semua. Kans nya adalah 50-50, pasti ada yang namanya pro dan kontra. Sangat tergantung sudut pandang, kepentingan dan waktu. 





Pemenang Iycey award yang pertama, salah seorang inspirator saya dalam dunia kreatif, penulis buku Creative Junkie dan penggagas  I like Monday Yoris Sebastian  juga sempat memberikan pujian kepada Inbox.

Seiring waktu sering apa yang baik dulu menjadi buruk karena usang. dan kuno. Itu yang harus disadari oleh pekerja kreatif.

Walaupun saya sang ratu lipsync, bukan berarti sewaktu menjadi pegawai tv dulu, saya cuma bisa buat acara musik yang artisnya lipsync lho.

Sea Games 95 Chiang May
Sebelum membuat acara musik, saya banyak melakukan peliputan olahraga. Bepergian ke berbagai negara meliput kiprah atlet Indonesia di berbagai arena.
Perjalanan keluar negeri pertama saya adalah meliput tim piala Davis Indonesia : Benny Wijaya, Bonit Wiryawan, Tintus Aribowo dan Suwandi bertanding melawan Korea Selatan di Seoul tahun 1993. Jadi saya udah duluan lho ke Korea Selatan. Haallaah!

Piala Davis Korea Selatan
 
Saya juga sempat menjadi presenter pada saat Piala Dunia 1998



Selain itu saya juga cukup lama mengerjakan magazine otomotif yang banyak melaporkan berbagai kegiatan balap di tanah air.


Saya juga menjadi presenter dan melakukan wawancara dengan beberapa artis  mancanegara
Interview The Corrs di Taiwan
Jauh sebelum itu, saat masih kelas dua SMP saya sudah mulai bekerja sebagai penyiar radio. Ceritanya di dekat rumah saya di Bekasi ada radio yang memberi kesempatan kepada pelajar untuk mencoba dan belajar siaran. Radio Gaya namanya 

Meski “cuma” radio di Bekasi, tapi mentor-mentor saya lumayan lho. Mereka adalah para senior di radio Prambors. Ada almarhum Poernama Koesasih, juga Temmy Lessanpura.

Lulus SMP, salah satu senior saya di radio Gaya, Leo Kreshnapati mengajak saya pindah siaran ke radio Amigos (sekarang Pesona FM). Saya sempat siaran bareng Bens Leo membahas musik Indonesia. 


Sebentar saja saya di radio Amigos, kemudian saya pindah ke radio Bahana FM, lalu pindah lagi ke radio DMC FM dibawah arahan mas Sys NS, masih pake seragam putih abu-abu.

Lulus SMA saya masih siaran di DMC, sampai saat RRI Jakarta membuka program Pro dua FM saya ikut menjadi penyiar awal.

Dulu, saya suka nyombong tebar pesona ke teman-teman cowok bahwa saya adalah pacar yang paling asik. Karena saya bisa asik diajak bicara sepakbola, asik berdiskusi musik dan saya mengerti otomotif.

Tetapi saya salah. 

Alih-alih memperoleh kekaguman dari teman-teman cowok, mereka malah memandang saya dengan tatapan mencela, sambil berkata, "terus bedanya lu sama si Agus apa? Masa gue kayak pacaran sama Agus" 

Sampai disitu derita  saya? Tentu tidak. Mereka  malah menganggap saya seperti layaknya teman-teman cowok yang lain. Tidak jarang memanggil saya dengan sebutan bro, bang, mas.. bahkan tidak segan-segan berkata agak cabul di depan saya. Huffftt! Fail.

Padahal saya lumayan kaaan? Yaaah.... Ga jelek-jelek amat lah. Hehehe,  sudah ah melanturnya. 



1 komentar:

  1. inbox dan febry meuthia; kita takkan bisa melepaskan nama itu jika berbicara tentang industri musik indonesia.

    di era sebelum inbok, masyarakat indonesia hanya mengetahui sedikit wajah dan lagu band-band indonesia. dewa, peterpan, ungu, padi dan tak banyak nama lain, hanya mereka yang menguasai pertelevisian.

    saat tayangan inbox ada, saya tertawa keras sekali; siapa orang pintar yang berdiri di belakangnya? ini revolusi, revolusi industri musik indonesia!

    saya tertawa keras, berbahagia;saya seperti melihat matahari, matahari yang memberi semangat saya dan para pelaku musik di negara ini..

    berkat inbox dan febry meuthia, band-band dan penyanyi-penyanyi baru, bisa memperkenalkan karyanya, memberi kesempatan masyarakat indonesia dalam menjadi juri yang sebenarnya. lagu bisa boming, atau tak menjadi apa-apa..

    kenapa minus one, mengapa mesti playback? itu hanya pertanyaan dari mereka-mereka yang tak mengetahui bagaimana kompleksnya membuat sebuah tayangan musik dengan banyak band dan dimainkan secara live..

    jika saya bicara tentang bagaimana sosok febry meuthia mempengaruhi perubahan musik indonesia, saya bisa menulis sampai besok pagi. terlalu banyak hal baik yang dilakukannya bagi industri musik negara ini.

    saya tak menulis banyak dulu sekarang ya mba. yang jelas, mba itu living legend di industri musik indonesia. itu fakta yang tak bisa dibantah siapapun. salut dan hormat saya untuk kamu, mba..

    sehat terus, sukses terus. salam untuk mas anto dan malaikatmu yang tercinta..

    erie prasetyo, 36 tahun, laki-laki, band manager, temanmu... :)

    BalasHapus