Covid ; Sebuah Utas dari Penyintas

11.51.00 Febry Meuthia 9 Comments

 Siang itu saat saya sedang melakukan transaksi keuangan di salah satu Bank, tiba-tiba Whatsapp message saya masuk kiriman dari  suami sebuah foto hasil swab antigen dengan teks singkat, “Yaela postif ”. Memang hari itu jadwal suami untuk swab sebagai syarat untuk melakukan kegiatan shooting esok harinya. 

Kaget dan lemes pastinya saya rasakan dan saya langsung membalasnya “Ya udah jemput saya kesini, Saya mau swab juga juga”. Corona yang selama ini kami anggap hanya semakin dekat karena beberapa tetangga dan kawan sudah ada yang terpapar ternyata pada akhirnya hinggap juga pada kami.

Berbarengan saya menuju klinik saya telpon anak lanang yang sedang di rumah untuk segera menyusul ke klinik untuk melakukan swab juga, 30 menit menunggu dan seperti yang saya cemaskan hasil saya keluar dan dinyatakan positif, selang beberapa lama hasil anak lanangpun keluar dengan hasil yang tidak berbeda dengan kami berdua. 

Dokter  klinik pun menyarankan kepada kami untuk melakukan isolasi mandiri dan jika salah satu diantara kami ada tanda-tanda penyerta sakit seperti demam tinggi, diare, sesak nafas, batuk dan flu berat kami disarankan untuk segera ke rumah sakit sesegera mungkin dan jangan pernah menunda.

Berdiskusi dengan beberapa teman via WA dan telepon kami disarankan untuk test PCR juga, ini untuk meyakinkan dan memperkuat hasil swab antigen dengan 1 sample PCR saja yakni saya, karena menurut kawan satu sample sebuah keluarga sudah dipastikan yang lainnya pun akan sama hasilnya dan kenapa saya? Karena saya mempunyai riwayat darah tinggi dan asma, 

Selain tes PCR saya disarankan juga untuk Rontgen untuk mengetahui update kondisi paru-paru saya karena biasanya yang diserang pertama kali oleh virus Cov19 adalah paru-paru. Maka kami pun meluncur ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas PCR dan Rontgen.

Kan kami sudah swab antigen kok harus PCR lagi? Sebenenarnya kami mau memastikan sepasti-pastinya akan virus ini memang berada ditubuh kami karena menurut info beberapa laman Kesehatan keakuratan deteksi virus Cov19 dengan PCR mencapai 90% sedangkan swab antigen 70%, dan biasanya PCR lebih efektif bagi pasien Cov19 dengan status OTG karena mendeteksi detail sampel. Sementara swab antigen biasanya buat pasien Cov19 yang memang sudah ada gejala karena pasien secara keadaan Kesehatan fisik sudah terdeteksi keluhan-keluhan yang yang biasanya  ada pada pasien terjangkit virus Covid (Demam tinggi, Flu batuk berat, diare, sesak nafas, jantung berdebar, penciuman hilang)

Hasil PCR saya diketahui esok harinya yang diambil oleh salah seorang kerabat lalu mengirimkannya lewat foto dan memang sama dengan hasilnya dengan swab antigen hanya ada detail keterangan CT saya yang kurang tingkat imunitasnya dan mendeteksi adanya virus Cov19.


Hasil rontgen pada hari itu juga saya terima sudah terlihat adanya gambar putih seperti awan di paru-paru saya dan penjelasan  dokter menandakan adanya virus Cov19 yang sudah hinggap di paru-paru saya. Kami pun pulang ke rumah dengan perasaan was-was karena jujur kami belum siap untuk ini apalagi tiga orang sekaligus yang terpapar. Belum berhenti disini masih ada satu lagi PR karena ayah saya yang kebetulan baru 3 hari datang ke rumah dari Surabaya karena ada acara di daerah Karawang.

Beliaupun melakukan swab antigen dan rontgen dan hasilnya seperti kami kira yakni juga terpapar virus Cov19 hanya pada hasil rontgen flek putih pada paru-paru ayah  lebih banyak dibandingkan hasil rontgen saya menandakan kondisi yang lebih sedikit berat dibandingkan kami. Dengan hasil itu maka komplit sudah kami membentuk sebuah “KLASTER KELUARGA”.

HARI-HARI AWAL

Semua kawan dan kerabat selalu menasehati jangan panik kalau kita dinyatakan positive karena alasan mereka rata-rata adalah agar imun kita tidak drop hanya karena mood dan pikiran, Ternyata ada benarnya karena kepanikan akan membuat kita semakin sulit berfikir positif mengatasi virus ini.

Hari pertama dari dinyatakannya positif masing-masing kondisi kami berbeda, Saya dan suami ada batuk pilek ringan, ayah saya hanya batuk tapi agak sedikit berat sedangkan anak lanang tidak ada perbedaan yang signifikan antara dinyatakan positif dengan kondisi normal sebelumnya, Persamaannya adalah syukur suhu badan kita semua tidak terlalu panas yang ekstrem.

Dan selama isolasi mandiri dirumah ini kami memutuskan berbagi tempat kamar tidur untuk tidak bercampur satu sama lain karena melihat kondisi kami yang berbeda-beda tingkatannya. Dan jika keluar kamar walau dalam rumah kami tidak lepas dari masker.

Kurang lebih saya hitung 20an butir obat dari pagi hingga malam hari yang masuk ke dalam tubuh kita, dari obat kimia untuk batuk pilek, obat anti virus, herbal untuk imun, vitamin. Selain susu, madu, serta buah-buahan tidak tertinggal tiap harinya kita konsumsi, ini suka atau tidak suka kita paksakan untuk meminum dan memakannya.

  

Selain menjemur badan di panas matahari, beribadah dan berolahraga tentunya. Kamipun berkala beberapa jam sekali selalu mencheck suhu badan dengan termometer, mengukur tekanan darah dengan alat tensi, dan oximeter untuk mengukur detak jantung dan kadar oxygen dalam darah, Jadi menurut saya bahwa ketiga alat ini sangat-sangat sekali dibutuhkan bagi kita para pengidap Cov19 agar kita dapat mengetahui update kondisi kita dan untuk barang-barang tersebut harganyapun masih terjangkau jika kita cari di online shop. 


Hari kedua penciuman saya dan suami sudah mulai hilang, sementara ayah dan anak lanang masih normal. Yang kami berdua rasakan adalah sekeras apapun wangi-wangian kami berdua tidak menciumnya namun pengecapan perasa masih normal bisa kami deteksi dari rasa pedas, asam, manis atau pahit. 

Sebagai perbandingan minyak wangi hajar aswad untuk shalat yang baunya kencang dan botol minyak kayu putih kami tempelkan dihidung  aroma wanginya sama sekali tidak tercium walau kami sudah hirup dengan sekuat tenaga.

Perasaan Aneh dan takut pastinya kami berdua  rasakan namun ada kerabat yang matan penyitas menginformasikan untuk melakukan terapi dengan tissue yang dipilin lalu kedua ujungnya dicelupkan pada minyak kayu putih lalu taruh di lubang hidung kiri dan kanan dan bernafas normal, berkumur hingga tenggorokan dengan obat kumur antiseptikpun kita lakukan. Dan bahkan suami pernah minum air hangat  yang sudah ditetesi minyak kayu putih.

Alhamdullilah dengan terapi tersebut penciuman kami berdua yang hilang kembali normal dengan waktu berbeda, suami mengalami hanya tiga hari sementara saya harus kehilangan penciuman selama 5 hari. Saat penciuman itu kembali,  ada rasa lain dalam diri saya, Betapa bersyukur bahwa hidung sudah kembali normal sediakala, dan merupakan nikmat yang tak terkira bisa sinkron lagi apa yang difikirkan di otak kita tentang sesuatu aroma dengan indra perasa hidung kita. Allhamdullilllah Ya Allah.

GAK PERLU TAHU

Banyak persepsi berbeda pada masyarakat Indonesia menanggapi adanya virus corona dan posisi kami adalah keluarga yang meyakini bahwa Covid itu ada, nyata dan kami katagorikan cukup bahaya, Jadi kalau ditanya apakah kami melakukan 3M sebelumnya, Jelas kami melakukan itu semua, bahkan masker tidak pernah lepas dari kami dan hand sanitizer selalu tersedia  saat harus keluar rumah.

Tapi kenapa kok bisa terkena ?. Kalau merunut riwayat seminggu terakhir sebelum dinyatakan positif, Anak lanang dan suami sempat mentracking circlenya yang rutin bertemu, apakah ada juga yang positif covid, namun jawaban semua tidak ada menemukan sample yang positif, kalau saya seminggu terakhir ya kebetulan dirumah saja, Sementara ayah saya yang baru tiga hari datang, dia telah  melaukukan swab antigen yang hasilnya negatif sebagai persyaratan menggunakan transportasi umum kereta api.

Memang kalau di fikirkan rasa penasaran itu ada, siapa sumber awal virus itu bisa mampir di keluarga kami ? Namun kami semua sepakat bahwa kami tidak akan mencari tahu atau menjudge siapa yang menjadi  awal. 

Kami merasa kalau menyalahkan salah satu anggota keluarga bisa berakibat lebih buruk lagi karena pasti akan ada perasaan bersalah dan ini mungkin saja akan menyebabkan imun akan tidak baik. 

Jadi lebih bijak kami semua tidak tahu dan  tidak mau tahu atau bahkan menyalahkan satu sama lain, karena yang kami butuhkan saat ini adalah kami semua harus saling support melewati ini semua.

JUJUR

Sebagai klaster keluarga, jujur dan terbuka harus kami lakukan untuk orang dilingkungan kami, lewat WA grup RT suami melaporkan kondisi kami dan mendapatkan respon dari para tetangga yang banyak mendoakan dan membantu mengirimkan beberapa kebutuhan kami, di grup keluarga juga kami infoakan agar mereka jangan dulu datang kerumah.

Selain itu kami juga melapor kepada satgas covid agar klaster kami terpantau, ada bebarapa tindakan yang diberikan oleh satgas selain mencatat keadaan dan data, yakni  mengundang melakukan PCR gratis di hari ke 6 isolasi kami, dan ini  menurut saya membantu banget karena kalau kita melakukannya secara mandiri bakal cukup lumayan biaya yang harus dikeluarkan, sebagai informasi harga test mandiri PCR berkisar Rp. 900.000 – Rp 1.900.000 dan untuk Swab antigen berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 400.000, nah kalau klaster keluarga seperti kami kalau dikalikan 4 jadi lumayan kan totalnya. 

Namun hasil PCR dari satgas kita terima dua hari kemudian dan kami dinyatakan masih positif dan harus melanjutkan isolasi mandiri kami.

Satgas juga memberikan vitamin dan melakukan penyemprotan diseluruh rumah kami dengan disinfektan. Jadi menurut saya jangan takut untuk melapor ke satgas, karena yang saya dengar beberapa orang masih ragu kalau ditangani satgas karena ketakutan tidak bisa isolasi mandiri dirumah dan akan dibawa ke rumah sakit khusus covid di daerah itu. Dan sebenarnya kalau ini terjadipun karena pertimbangan satgas karena kondisi si penyitas semakin memburuk jadi jangan khawatir untuk melapor.  

Mengapa kita harus jujur? Ini agar kita bisa memutus atau minimal menjaga jarak dengan orang lain agar tidak terpapar oleh kita, para tetangga pun tidak mendekati kami untuk kebaikannya, Mbak yang membantu setrika baju di rumah juga saya liburkan dan kalau kami memesan makanan via ojol kami selalu memberikan keterangan “tolong digantung saja dipagar rumah karena kami sedang isolasi mandiri karena corona dan tidak bisa mengambilnya langsung”.

Pokoknya prinsip kami adalah jangan sampai virus dari kalster keluarga kami keluar dan memapari orang-orang disekitar kita.

BELUM BERAKHIR

Hari-hari kami hanya disi dengan makan yang cukup gizi dan protein, minum obat dan vitamin, olahraga kecil dalam dirumah dan jangan berfikir yang bisa membuat kita stress, kalau saya  sih striping series beberapa judul Drakor cukup buat saya Happy hehehehe. 


Seperjalanan hari isolasi kondisi kami bertiga saya, suami dan anak lanang sepertinya membawa kemajuan dan kondisi fisik merasa semakin bugar walau saya masih ada sedikit batuk ringan. 

Berbanding terbalik dengan ayah saya yang kini menginjak usia 72 tahun dan mempunyai beberapa penyakit bawaan, kondisi nafasnya semakin sulit dengan batuk yang semakin menjadi, bahkan sudah mencapai ke psikologisnya, ada rasa ketakutan kalau tidur sendiri di kamar, dan merasa nyaman kalau tidur di ruangan menonton TV agar bisa ada orang yang melihat dan mengawasi.

Seperti saran dokter dan satgas sebelumnya akhirnya kami memutuskan untuk mengirimnya ke Rumah sakit, Dari Rumah Sakit awal di RS Pertamina Jakarta, Cempaka Putih, dirujuk ke RS Pertamina Pusat, Kebayoran dan bermalam di unit perawatan demam Cov19, dan esok harinya  dipindah ke RS. Pertamina Khusus Covid di Simprug. Di situlah akhirnya ayah saya selama 12 hari menjalani perawatan di Rumah Sakit dan kamipun sudah bisa tenang karena ayah sudah diurus oleh tenaga-tenaga medis.

Banyak cerita dari ayah dimana banyak sekali para manula yang dirawat disana dan ada beberapa yang tidak dapat tertolong karena memang selain virus adanya penyakit bawaan yang membuat kondisi pasien semakin memburuk.

LULUS

Hari ke 16 setelah isolasi mandiri kami berencana untuk melakukan tes swab antigen untuk mengetahui hasil kami selama isolasi mandiri dan Syukur Allhamdullilah kami bertiga dinyatakan lulus dari isolasi mandiri ditandai dengan hasil sudah negatif dari virus covid 19, selang satu minggu  (12 hari isolasi RS) ayah sayapun sudah diperbolehkan pulang karena hasil PCR sudah negatif Cov19 dan imunnya sudah normal kembali walau rujukannya masih harus melanjutkan isolasi dirumah selama 10 hari kedepan. 


 

Untuk kondisi batuk bagi penyitas Cov19 memang akan berlangsung cukup lama, Baik saya, suami dan ayah walau dinyatakan Negatif namun masih menyisakan efek batuk dengan kadar yang berbeda-beda, karena menurut dokter bahwa efek dari kesembuhan  virus ini terkadang membawa/ menyisakan batuk dalam beberapa waktu kedepan dan akan hilang dengan sendirinya atau dengan bantuan obat batuk.

Kepulangan ayah dari rumah sakit menjadi pembeda status kami yang awalnya KLASTER KELUARGA COVID 19 menjadi PENYINTAS COVID 19 [KBBI : Penyintas Covid 19 adalah orang yang mampu bertahan hidup melawan virus covid 19, Penyintas Covid bisa juga disebut orang yang sembuh dari covid 19]

Banyak yang kami dapatkan dari jalannya Allah dengan cobaan menjadi pasien virus covid 19 di keluarga kami ini. Pertama adalah ada pengalaman Ilmu tentang apa yang harus kami lakukan jika terpapar Virus menular yang butuh penangan khusus, dan bahwa semua cobaan apapun harus di atasi dengan sabar serta fikiran yang jernih, kompak saling mendukung. Yakin bahwa pasti Allah akan kasih jalan keluarnya buat kita. Semoga utas dari kami penyintas ini bisa menjadi info kecil buat  teman-teman yang membacanya, jaga Kesehatan teman dan keluarga.  #SalamSehat. Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita bisa hidup normal Kembali.

9 komentar:

  1. Thx for sharing mba Febry ...👍👍🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca

      Hapus
  2. Thanks ya utk sharing nya, Insha Allah sehat selalu semuanya. Aammiin.

    BalasHapus
  3. Ijin mampir Tante. Wah blognya keren. Bookmark ya.

    BalasHapus
  4. Terima kasih sharingnya Tante, salam kenal ya Tante. Semoga sehat selalu sekeluarga, aamiin🙏

    BalasHapus