Lombok; kampung Sasak, pedasnya ayam Taliwang dan indahnya Gili

17.57.00 Unknown 0 Comments


Masih cerita 12 hari #TripOfWonders, bersama para bloggers dan social media influencers ASEAN, Destinasi ketiga dari perjalanan ini adalah Lombok.

Pagi-pagi usai sarapan yang luar biasa di Hotel Royal Ambarrukmo kami berangkat dari bandara Adi Sucipto di Yogyakarta menuju bandara Ngurah Rai, Bali




Untuk melanjutkan perjalanan ke bandara Lombok Praya di Lombok





Hari sudah menjelang siang ketika kami mendarat di Lombok Praya, langsung naik bus menuju kawasan Kuta untuk menikmati makan siang di El Bazar




Hidangan di El Bazar adalah Mediteranian, di sini kami menikmati Mezze Platter, yakni roti pita dengan tujuh saus diantaranya, hummush, baba ganoush, fetah cheese, spinach dan lain lain


Selain Mezze platter, makanan lain yang juga sangat lezat di restoran ini adalah Tagine, ayam yang dimasak dengan metoda slow cooked, lamb kebab juga vegetarian kebab. Sang Pemiliki, pria Marrocco yang ramah Larby menyapa dan melayani kami dengan sepenuh hati.

Usai makan siang, kami beranjak ke Kampung Sasak Sade. Sade adalah salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak.  



Sebagai desa wisata, Sade punya keunikan tersendiri. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, Desa Sade masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok.

Hal itu bisa dilihat dari bangunan rumah yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu. 


Warga desa punya kebiasaan mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. 

Sekarang sebagian diplester semen dulu, baru kemudian kami olesi kotoran kerbau. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk



Ada 150 Kepala Keluarga (KK) di Sade. Dulu, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari).Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya.


Tradisi unik suku Sasak adalah saat menikah. Tradisi ini mengharuskan para teruna, sebutan untuk pemuda menculik atau mencuri pasangannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan pihak keluarga perempuan. 

Setelah beberapa malam disembunyikan di rumah kerabat sang teruna (bukan di rumah sang teruna sendiri) barulah kemudian pihak keluarga laki-laki akan memberi kabar kepada keluarga perempuan. 

Setelah upacara pemberitahuan yang disebut nyelabar, barulah kemudian diadakan prosesi pernikahan. Iring-iringan pengantin akan menuju rumah keluarga mempelai perempuan dengan iringan tetabuhan gendang beleq dan kecimol


Dari Kampung Sasak Sade, kami ke Hotel Golden Tulip Mataram untuk beristirahat, sebelum berkumpul lagi di lobi untuk makan malam. Kamar kami kecil dan nyaman dengan jendela besar berpemandangan spektakuler


Waktu makan malam tiba, rombongan kami berangkat ke jln. Ade Irma Suryani, tujuan kami adalah RM. Taliwang Raya HM Bahrain Moerad

Ayam Taliwang adalah makanan khas Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang berbahan dasar ayam kampung, biasanya masih muda. Ayam muda dibakar dengan bumbu cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam. 


Dan seolah belum pedas, Ayam Taliwang biasanya disajikan bersama masakan Lombok lainnya seperti beberok terong dan pelecing kangkung



Jadilah rasa pedas bersahut-sahutan di dalam mulut, tanpa kehilangan kelezatannya. Sungguh suatu festival rasa yang sangat memanjakan bagi para pencinta masakan pedas


Puas menyantap pedas dan lezatnya ayam Taliwang, kami kembali ke hotel, beristirahat, karena besok pagi kami akan banyak mendapat asupan vitamin Sea alias bersuka ria di laut.

Pagi di Hotel Golden Tulip, saya bahkan nyaris tidak bisa menelan sarapan karena begitu antusiasnya saya akan pergi ke Gili Trawangan.

Sudah sering saya mendengar cerita kawan-kawan yang berlibur dan bersuka ria di Gili Trawangan, lengkap dengan postingan Instagram mereka yang membuat iri. Dan sekarang saya akan merasakan sendiri pengalaman tersebut.

Dari hotel di Mataram, kami naik bus ke Senggigi untuk naik boat menyeberang ke Gili Trawangan. Perjalanan darat selama kurang lebih satu jam itu dipenuhi pemandangan pantai-pantai yang indah


Dan ketika akhir kapal cepat yang kami tumpangi sampai di Gili Trawangan, saya menganga melihat keindahan yang terpampang di depan mata saya. Subhanallah


Di Gili Trawangan kami hanya mengambil gear untuk snorkling dan naik glass bottom boat ke Gili Meno




Di sini kami mulai menceburkan diri, melihat-lihat keindahan laut yang tidak terlalu dalam, di air laut yang jernih 


Dari Gili Meno yang arusnya sedang deras, kami naik boat lagi menuju Gili Air, singgah di beberapa spot untuk melihat penyu




Selesai bermain di pantai yang berpasir putih dan halus, kami segera kembali ke Gili Trawangan. Ombak cukup besar saat kami kembali, bersamaan dengan arus surut. 

Apa saja yang bisa dilakukan di Gili Trawangan? Banyak. Bersepeda atau naik cidomo berkeliling pulau, atau sekedar bermalas-malasan di pantai

Selain deretan penginapan dan restoran trendi di pinggir pantai, banyak sekali spot spot cantik untuk berfoto dan ditampilkan di Instagram. Seperti si cantik Nicole Tan, pemilik blog www.nicolekiss.com  Malaysia ini misalnya


Saya, memilih mandi, makan siang dan berfoto foto di sekitar dermaga dan di kapal cepat yang membawa kami kembali ke Lombok










0 comments: